Senin, 15 Juni 2009

Aku sanggup Menantimu

AKU SANGGUP MENANTIMU



Sebuah bangunan yang gagah menjulang tinggi ke angkasa menyapaku dangan ramah, aku pun membalasnya dengan senyuman kecil. Sungguh pagi ini adalah pagi yang begitu indah, kau tahu kenapa kawan?
Ini adalah pagi pertamaku, dimana aku melangkahkan kakiku ke dunia fantasiku, SMA. Lama ku pandangi gerbang calon sekolahku, disana tertera sebuah nama. Nama yang indah sekaligus menggetarkan jiwaku, “MADRASAH ALIYAH NEGERI RENGEL” itulah nama calon sekolah baruku. Tak sabar rasannya aku ingin menyandang gelar siswi ‘MAN Rengel’. Ah.. betapa indahnya, batinku.
Aku berlari lari kecil menuju ke ruang pendaftaran. Aku tak heran begitu ruang itu kosong tak berpenghuni, maklum kawan ini baru jam setengah tujuh, sementara pendaftaran baru akan dibuka pukul 8 nanti. Aku sengaja datang lebih awal, aku sendiri kurang tahu kenapa hatiku mendesakku agar berangkat pagi.
Kini aku duduk termangu di depan koridor kelas, dan tak henti hentinya aku tersenyum membayangkan betapa indahnya mengenakan seragam putih abu abu.
Dua jam telah berlalu bak semenit bagiku. Pendaftaran telah dibuka, aku pun sukses menjadi siswa pertama yang mendaftar,kemudian menyusul di belakangku seorang anak laki laki jangkung yang bertampang kusut, potongan rambutnya pun awut awutan, sungguh kau jauh dari sesosok pria idamanku Boy!, aku membatin.
Sejenak aku merasa ganjil melihatnya mengobrak abrik tasnya, ia celingkungan mencari cari sesuatu di dalam tasnya, ah melihat tampangnya saja sudah memprihatinkan ditambah lagi melihat adegan seperti ini, sungguh kau pria menyedihkan Boy, aku kembali membatin. Tak seberapa lama kemudian ia menatap ke arahku, bibirnya bergerak gerak melantunkan sebuah kalimat namun tak sedikitpun aku bisa mendengarnya, maklum kawan ia bicara tampa suara. Aku pun jengkel melihatnya, melihat aku kebingungan ia mengulang kata katanya tadi yang telah termakan angin,
“Boleh pinjam bolpoin?”, ia berbicara ke arahku solah olah yang ia ajak bicara adalah orang yang nun jauh di seberang sana, karena bola matanya sama sekali tak menatapku.
Aku enggan menjawabnya, langsung saja kusodorkan bolpoinku kepadanya, begitu selesai, ia serahkan bolpoin itu kepadaku tampa sepatah kata pun.
Lagi lagi aku kesal dibuatnya. Namun sejenak kemudian kekesalanku hilang digantikan rasa heran begitu melihatnya mengulang kejadian barusan, ia kembali mengobrak abrik tas bututnya, bahkan kali ini ia sampai menumpahkan segala sesuatu yang menghuni tasnya, sejenak tampa ku sadari ada decak kagum di hatiku melihat penghuni penghuni tas itu, ada sekitar 5 atau 6 buku setebal Quran di dalamnya, wah wah wah…buku saku pramuka yang setebal krupuk saja aku tak khatam khatam sejak SD. Belum selesai aku terkagum kagum memandang anak laki laki itu, ia kembali menatapku, kali ini dangan tatapan yang lebih dalam, aku pun balas menatapnya, DEG….. ada perasaan ganjil saat aku menatap bola matanya. Aku merasa gugup melihatnya ku alihkan saja pandanganku ke bawah seolah aku mencari uang receh yang terjatuh.
“Boleh pinjam uang?”
“boleh, tentu, berapa memang?”, tiba tiba saja kata kata itu meluncur dengan sendirinya dari bibir mungilku, di sisi lain aku juga merasa jengkel kepada mahluk satu ini, memeng aku siapanya? Pikirku. Tapi toh tetep saja aku merelakan 50.000ku kepaanya, bahkan aku sama sekali tak keberatan kalau uangku tak dikembalikan. Aku juga tak keberatan kalau dia tak mengucapkan terima kasih kepadaku, aku ikhlas se ilkhlas2nya.
Setelah kusodorkan selembar uang 50.000 kepadanya aku buru buru memalingkan wajahku dan bergegas pulang. Selewat 5 langkah aku mendengar teriakan laki laki tadi, aku merasa akulah yang ia panggil karena itu aku menoleh. Aku melihatnya tersenyum, tak kusangka lelaki yang berwajah kusut ini ternyata pemilik senyum termanis sedunia,
“hey aku Adly, dan kau?”, ia berucap, sungguh gaya berkenalan yang menyenangkan bagiku, sambil tersipu aku pun menjawab,
“aku Tsanny”, hanya itu yang bisa ku ucapkan karena sejurus kemudian aku telah berlari menjauh darinya, busssyet aku terjangkit syindrom gugup stadium akhir menghadapi mahluk yang satu ini.
***

Itulah kawan the story of my first love, sejak saat itu sampai sekarang ia telah setia menemani mimpi mimpi malamku, meski hanya bisa mengaguminya dari belakang namun aku cukup puas dengan hanya melihat tiap kali ia tersenyum ke arahku manakala aku melewati kelasnya, aku merasa ia memperlakukanku lebih special dari gadis gadis lain, aku tak tahu apakah hanya aku saja yang GR, atau memang itulah yang sebenarnya terjadi namun jujur aku sungguh bahagia dengan dugaanku yang seperti ini. Entah apa yang membuatku begitu menyukainya, dulu kejadiannya begitu singkat, namun emncintainya ternyata tak sesingkat yang ku kira. Buktinya sampai sekarang saat aku talah menginjak kelas tiga, rasa itu pun tak pernah berubah.
Terkadang aku bosan sekaligus jengkel tak karuan dengan perasaanku ini, kau tahu kenapa kawan? Gara2 aku mencintainya al hasil aku jadi jomblo sejati, bukannya aku tak laku2 sih, n bukannya sombong kawan, selama ini telah ada berlusin lusin lelaki yang mendaftarkan dirinya kepadaku( busssyeeet sombong banget booo’), toh semuanya tak bisa menggantikan posisi Adly di hatiku. Sungguh mahluk ini begitu merepotkanku, kalau saja ia tak pernah ku cintai pasti saat aku pergi ke reuni2 aku tak pernah sendirian, saat liburan sekolah pun pasti aku tak pernah menganggur di rumah, ah… semua gara2 Adly aku jomlo bertahun tahun.
3 Desember, pukul 13.30WIB. Aku bergegas pulang aku tak kuat lagi memandang diriku basah, kotor dan bau busuk telor yang menyengat, maklum kawan saat ini aku ber ulang tahun. Aku berlari secepat aku bisa,
“Tsanny….tunggu…”. ku dengar suara tak asing itu menyapaku, tak lain dan tak bukan itu adalah suara si pemilik senyum termanis sedunia, siapa lagi kalau bukan Adly. Pasti ia ingin mengucapkan ulang tahun kepadaku, hatiku pun berbunga bunga, namun kala aku mencium bau busuk di sekujur tubuhku, nyaliku ciut untuk dekat denganya, kenapa kau tak menemuiku tadi pagi sih Adly?saat aku masih cantik, aku menggerutu dalam hati.
“tsann, tunggu sebentar,” adly merogoh sesuatu di dalam tasnya, ah tak kusangka ia akan memberiku sesuatu, wah ini akan jadi ulang tahun terindah bagiku, aku membatin.
“Tsanny, ini 50.000mu yang dulu, maaf aku baru bisa mengembalikannya”, aku serasa tersengat lebah mendengarnya,
“tapi, Adly bukannya dulu aku sudah bilang tak usah lah kau kembalikan uang itu”, aku mengatakannya dengan ketus, Adly pun salah tingkah, kemudian aku memberanikan diri untuk menanyainya,
“Adly, adakah hal lain yang ingin kau katakana kepadaku?”
“mmmm….. ku rasa….ku rasa… tak ada”, katanya gugup aku malihat binar binar kebohongan di matanya. Hatiku menjerit aku benci kepadanya tak inginkah ia memberiku ucapan selamat?
Aku tak kuasa terus berdiri di depan Adly, aku berlari pulang, aku tak peduli ia masih memanggil maggil namaku, aku benci kepadanya.
***

Sejak saat itu aku menjadi agak benci kepadanya namun jujur sisa2 rasa cintaku kepadanya masih terpatri kuat kuat di palung hatiku yang terdalam. Inilah yang membuatku sangat menderita.
Aku berjalan santai menuju ke podium tempat dimana aku harus berpidato (karena aku terpilih sebagai siswi berprestasi tahun ini)kepada seluruh undangan wisuda yang hadir, yah inilah hari terakhir aku menjabat sebagai siswi MAN yang sangat ku banggakan.
Kata demi kata meluncur dari bibirku, di mata orang lain mungkin aku terlihat begitu menghayati isi pidatoku, padahal aku dengan gusar memandang keseluruh pelosok undangan sekedar untuk mencari si pemilik senyum termanis sedunia, namun sayang di sudut manapun aku melihat tak ku temui senyum itu. Padahal aku hanya ingin melihat senyumnya untuk yang terakhir sebelum kukubur semua kenangan kenanganku bersamanya.
Pukul 14.30WIB. acara wisuda pun berakhir, aku merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupku. Aku berjalan gontai melewati koridor koridor, kala mataku menatap sebuah kelas, XI IPA1 tepatnya, anganku melayang layang, aku teringat kepada seorang anak laki laki bertampang menyedihkan yang bersusah payah membongkar tas butunya demi menemukan rupiah rupiahnya yang hilang, itulah Adly, disinilah dulu pertama kali kita berjumpa, sungguh waktu berjalan begitu cepat, jikalau boleh aku memilih, aku ingin pagi itu aku tak pernah bertemu denganya, rasa ini begitu menyiksaku, tampa kusadari bulir bulir air mata mengalir di pipiku, aku pun sesenggukan.
Kemudian aku berlari ke perpustakaan MAN Rengel, di sinilah dulu aku sering diam diam memandangnya saat ia asyik membaca buku, tangisku kembali pecah, aku tak kuasa menahan rasa sesak di dadaku.
“ku kira ada yang butuh tisyu, kau boleh ambil semuanya, gratis khusus untuk gadis secantik kau”, aku kenal sekali dengan suara itu, ia tersenyum kepadaku sambil menyodorkan sebuah tisyu.
“kkkkk ka kau kah itu?”, gumamku di sela sela isak tangisku.
“tepat sekali, tak adakah hal lain yang bisa kau lakukan selain menangis cengeng? Berkali kali aku memergokimu sedang menangis, bukankah kau tahu sendiri saat kau menagis kau tampak begitu jelek hah?”
“kau…. Kau…. “ aku tak dapat menyelesaikan kata kataku, tangisku justru semakin menjadi jadi.
“oh hanya itukah yang bisa kau berikan untukku, tak tahukah engkau setelah ini aku akan pergi jauh, mungkin 3 tahun lagi kau baru akan bisa melihatku lagi”
aku tersentak mendengarnya, kuberanikan mataku untuk sekedar melihat bola matanya, ia menatapku dengan tatapan yang sangat menyejukkan jiwa, ingin rasanya ku bawa terus tatapann mata bening itu agar aku merasa damai.
“Tsanny tidakkah kau memikirkan bagaimana menderitanya aku nanti saat merindukanmu? Tolong beri aku secuil senyummu, atau kalau tak keberatan berikan kepadaku pula hatimu!”
DUAR……….Sepertinya ada sesuatu yang meledak di dalam hatiku.
“apa kau bilang?”,aku bertanya.
“ku rasa semuanya sudah jelas, kurasa dari dulupun kau tahu aku begitu menyukaimu, jadi…?”
“jadi apa?”, aku pura pura bego menanyakannya
“jadi kembalikan tisyuku, dari pada Cuma kau remas remas begitu!”, Adly Adly itulah yang membuatmu berbeda, batinku.
“oh ya ini, aku ada sesuatu yang ingin kuberikan untukmu, dari dulu malah, eits…. Di buka entar aja kalo di rumah, norak banget sih?”, ucapnya membuatku jengkel bukan main.
“oh ya Tsanny, bonyokku, dah nunggu tuh di depan, tak apa kan ku tinggal 3 tahun? Jangan lupa tunggu aku 3 tahun lagi disini, di tempat ini, maka kau akan ku curi dari orang tuamu, mengerti,,, cengeng?”
aku kembali menagis di buatnya, namun sepercik kebahagiaan talah menerangi relung hatiku yang gelap, aku pasti sanggup menantimu, kasih!.

Istigfar Cinta



“ Kenapa engkau masih ingkar akan cintamu, padahal kejujuran air mata, sakit-sakitan adalah menjadi saksi atas cintamu “.( Syekh Muhammmad Al- Bashir, burdah ).
Kemilau cahaya bulan serta bintang- bintang menebar buih-buih kedamaian. Aku mencoba langkahkan kaki, menyusuri malam yang dingin, ku basuh seiras wajah dengan air bening nan suci. Harapkan menjadi insan yang selalu kembali kepada sang Illahi Robby. Uraian kalimat-kalimat suci mengalun di kedua bibir. Derai air mata di setiap sujud, tak pernah putus di hembusan nafas tubuh ku. Hanya harapkan ridlo di setiap Istighfar Cinta yang terbentang. Degup jantung dan hati tak dapat terpisah. Ibarat cinta dengan kehidupan manusia. Menyusup sejuk dalam relung kalbu setiap insan. Tiada manusia hidup tanpa cinta. Karena cinta sejak zaman Adam dan Hawa sudah terbenam di hati manusia.
“ Wah…udah jam 5 nich….” Pikirku dalam hati . hari jumat memang jadwal pelajarannya olahraga, yang di adakan diluar jam efektif, jadi harus berangkat pagi-pagi, selang beberapa menit samapi juga aku di sekolah. Di lapngan sudah ada Pak Dwi yang menunggu dan sepuluh anak yang baru datang berjajar rapi .Seperti biasa yang terakhir datang adalah Eko Widodo dengan pasangan sejatinya Abdul Aziz. Eh…ternyata masih juga ada yang lebih terakhir, siapa lagi kalau bukan Naim sama Imam, maklumlah bengawannya lagi banjir.
Setelah jam pelajaran olahraga selesai, seperti biasa , kami cangkrukan di depan kelas, sambil menunggu Pak Mukhid mengjar. Namun ,ketika diajar Pak Mukhid tak jarang dari kami yang malah main sendiri, bahkan sampai tertidur. Tidak cuma pelajaran Pak Mukhid saja yang sama anak-anak di tinggal tidur. Pelajarannya Pak Gunadi dan Pak Tolik pun tak ketinngalan, bahkan pelajaran matematika yang terkenal sulit , masih sempat- sempatnya Laroib, Zaeni dan Eko CS tertidur. Setiap ada guru yang bertanya kenapa kok tidur , pasti dijawab “ Annaumu Ibadatun “, gaya ala santri keluar dech kalau sudah berurusan dengan yang namanya tidur ( he…he…he…) bukan karena kehabisan dalil atau kekurangan dalil, tapi mungkin yang baru di ajarkan Syeh Dempol, Gus Mufid dan Mbah Naim baru satu dalil saja, jadi yang di ingat-ingat ya cuma “ Annaumu Ibadatun”.
Hari- hari berputar, seiring waktu yang terus berlalu, andai hidup adalah puisi, niscaya takkan cukup terukir dalam lembaran-lembaran putih, rangkaian kepedihan menjelma di antara pekat malam , seiring berlabuhnya waktu di semenanjung kerinduan kepada sang pencipta . Rindu yang membahana dan membakar jiwa mimpi- mimpi membasahi sekujur tubuh yang terhina dan terluka, yang tersakiti dan tak ingin mati. Meski malam ini mengoyak dan hempaskan tubuhku. Hingga kutak mau ada cinta yang semu . seberkas cahaya ayat-ayat cinta menggema, menjdi syifa’ qolbu dan penerang jiwa.
Ketika kuberada pada sof-sof yang lurus , pasrahkan segala diri ini , bersimpuh memohon ampunan tak bisa kuhapus sedihku tak mampu kutepis air mata ku. Ketika kuharus kehilangan orang- orang yang ku cinta. Tak ada sesal yang dalam meski hamparan luka- luka tawar terbenam dalam diriku . sesungguhnya semua dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Dalam hati hany bisa ku pasrahkan jawaban atas segala doa ku.
Sakitnya rasa kehilangan bagai bunyi dawai lokananta yang menyimpan perih dibalik suaranya yang merdu . ingin ku membelai kuntuman bunga impian , sebagai pengharum jiwa, kusanjungkan istighfar ditiap gerak langkah tubuhku. Kini warna pelangiku telah berlalau, pudar bersama uraian awan putih yang mengarah diangkasa biru.
Dahulu awalku mengenalnya, terasa beribu keindahan bertaburan disudut pandangku. Memberikan kesejukan dan kedamaian. Namun, kini berbalik membenamkan aku dalam kehancuran, meski senantiasa kusanjungkan namanya ditiap keluh lukaku.
“Eh…..kok bengong aja ?” aku mau Tanya sama kamu, kenapa kok dia kelihatan benci banget sama kamu ?” Tanya Andra.
“Ya…wajarlah Ndra, kan udah dapat yang lebih dari diriku”.
“Nggak punya hati banget za, padahal kamu udah berjuang demi dia, eh…sekarang malah bermesraan dengan cowowk lain”.
“he…he…he…nggak usah kecut gitu mukanya, kita berdoa saja semoga didapatkan kebahagiaan”.
Begitulah cinta yang harus kulenyapkan dari hatiku dan harus aku tukar dengan cinta sejati kepada-Nya. Dengan segenap keinsyafan kunyalakan taubat diwajahku, yang tersungkur diatas sajadah mengubur dosa-dosa yang lebih dahulu terlampaui dengan nafasku duatas gunung-gunung menjadi saksi bisu.
Mentari berbinar terang , memancarkan kemilau cahaya dari dirinnya sendiri dan cinta ibarat matahari. Betapa tinggi imajinasi maknai arti cinta yang terpapar , manusia tak akan temukan apa hakikat arti cinta , karena cinta itu sendirilah yang akan menerangkan arti cinta .
’’ Met pagi Zaky….’’sapa Ulmi , cewek paling crewet di IPS-4.
’’ Pagi juga plet (panggilan gaul ulmi)’’
’’´Kok udah masuk sekolah … ?’’
“ Boring di rumah terus …. Nggak ngumpul sama temen-temen rasanya kangen juga”.
Hari ini hari pertamaku masuk sekolah, karena empat hari aku di rumah sakit nungguin bapak hingga nafas terakhirnya mambelai sejuk dikulitku.
Seperti biasa, tiap waktu istirahat dan jam kosong kami duduk-duduk dipintu kelas, sampai wali kelas kami menegur supaya masuk ke kelas.
“ Sekarang pelajaranya apa? Dan waktunya siapa?” Tanya bu Umi.
“ Kesenian bu, jamnya pak Achmad”, jawab kami serentak.
Selang beberapa menit kemudian terlihat sosok perempuan lewat didepan kami.
“ Eh kemarin dia ke rumah kamu nggak, waktu bapak kamu meninggal?” bisik lara padaku.
“ Nggak tuh…emangnya kenapa?”
“ Iiiihhh jahat banget za….nggak punya perasaan banget !!!”
Kok jahat….? Kan aku bukan siapa-saiapanya dia”.
“ Nggak jaht gimana ….lha wong kamu dapat musibah kok dia nggak mau ke rumah kamu, apa dia nggak ingta saat – saat indah yang dilalui bersama kamu …cie….”
“ Udah ah jadi males aku , kal;u bahas begituan lagi, aku udah cukup menerima semua ini “.
Jalan rerumputan yang aku lewati ikut menangis menahan duka. Dengan banyak dluka akan membuat hidup bijak sana dalam melangkah. Menghisap hamparan hampa diantara taburan bunga melati yang berjajar rapi. Sesampainya di rumah kurebahkan tubuhku diatas tempat tidur.
“ Wah….cuapek banget habis les fullday”, aku biasa sendiri pada hari-hariku.
“ Sekian lama aku menunggu kedatangan mu….” Derit handphone disebelah tubuhku. Siapa lagi kalau bukan Alya bangunkan ku untuk sholat tahajud.
Pagi yang cerah ….!!! Senyum terbinar-binar kubingkai dalam wajahku, menatap hari dengan penuh harapan tuk jadi bintang bagi orang-orang yang aku cintai.
“ Cie…semangat banget nich, semalem habis dapt apa?”.
“ Zaharus semangat lho….kalau nggak semangat, mana mungkin kakak bisa kjadi bintang buat kalian…he…he…”.
“ Iza…percaya…semoga apa yang kakak cita-citakan berhasil…”.
“ Za udah aku berangkat dulu zaa….Assalamualaikum”.
“ Waalaikumsalam ….hati-hati di jalan”.
Sekitar 15 menit akhirnya sampai di sekolah,. Sekolah yang terkenal maju (alias mepet dalan) yang diatas gerbang tertulis “ MADRASAH ALIYAH NEGERI RENGEL , jln . Raya beron 728 Rengel”.
“ Assalamualaikum ….” Terdengar suara dari belakangku.
“ Wa’alaikumsalam…eh Alya “.
“ Tumban beranmgkat pagi?”
“ Gimana kabar kamu…udah lam nggak pernah ngobrol “.
“ Kamu sendiri gimana ? “.
“ Aku Alhamdulillah baik…..eh…kangen za sama aku…?”.
“ Iiiiihhhhh….ngapai kangen sama orang yang nggak pernah mandi ….he..he..he…”.ledek Alya ke aku.
“ Kirain kangen sama aku …berarti aku dong yang GR”.
“ Tapi… emang bener kok kalau aku kangen bangetb sama kamu”.
Begitulah setiap aku bertemu dengan Alya, pasti kau diejek nggak pernah mandi. Emang dasarnya aku pernah mandi kok….he…he…he…
Hari ini kelas ramia banget karena ada jam kosong . bukanya malah belajar , tapi malah sibuk-sibuk sendiri . ya…begitulah XII IPS 4 yang terdiri dari bermacam-macam masyarakat multikultural .Ada Laroib CS yang enak tidur, Ulmi CS yang enak-enak ngumpi di depan kelas. Syeh Poleng, Kyai Mufid dan Mbah Naim yang asyik debat syari’at. Ada juga kak Ngartika CS yang sregep belajar. Ditambah lagi genk Unsa CS yang mondar-mandir ( caper) disemua tempat.
Kelas XII IPS 4 terletak di utara lapangan voly, sebelah kiri ruangb OSIS. Mempunyai dua pintu yang salah satunya hamper copot. Dilantai depan bangku kami terdapat salah satu keramik yang pecah, cat-cat yang lusuh turut menghiasi kelas kami berwarna kuning kehitam-hitaman , bukan karena dulunya dicat kuning dicampur hitam , tapi karena sudah lama tidak dicat, ditambah cap sepatu dari berbagai merk yangn nempel didinding . Apabila waktu hujan tiba , kelas kami menjadi gelap karena hanya ada satu lampu yang bisa menyala serta dua kipas angina yang salah satunya tidak lagi dapat berputar . Layaknya sikap sempurna waktu upacara . didinding belakang terdapat motto IPS 4 yang tertuliskan “ Khoirunnas anfaukum linnas” yang diukir dengan kaligrafi arab.
Manakal kabut telah selimuti hamparan mimpiku, diantara jari- jemari yang meluas terbaring lunglai untuk mengukir elegi kehidupan , aa seprcik harapan dalam tahjudku. Mewarnai cinta yang telah lam terpendam , dan cinta menanti diatas segala ketulusan . Akhirnya dapat kuungkap cinta dibalik senja-senja waktu. Yang berlari terengah-engah aku sampai didepan Alya.
“ Aku mencintaimu Alya….” Ungkapku agak gemetar.
“ Zaky…tahukah engakau, jauh sebelum engkau ungkap rasa cintamu padaku, aku telah mencintaimu…namun aku memilih memendam rasa ini sendiri, karena kulihat engkau bahagia bersamanya. Sementara aku hanya bisa mengagumimu lewat diaryku”.
“ Kenapa kamu baru bilang sekarang Alya?”
“ Karena kau tak pernah bertanya Zaky….dan cintaku bukan untuk diumbar seperti mereka-mereka, kepedihan yang kurasa ternyata tak bisa hapuskan cintaku kepadamu”.
Sejenak waktu terdiam, helaian nafas panjang turut mengiringi.
“ Alya kalau dulu kita tak saling diam , mungkin kepedihan dan tetesan airmata , tak akan sedalam ini.
“ Sekarang aku taksendiri lagi…itu yang harus kamu tau, aku sudah belajar untuk mencintai orang lain, tapi aku juga tak bisa melepasmu, karena aku sudah terlalu lam menunggumu, maukah engkau menjadi shephiaku?”
“ Iza… aku mau Alya…”
Meski cinta yang kami dapatkan tak sesempurna cinta yang semestinya, karena kesempurnaan hanya ada dalam imajinasi manusia, yang ku tahu…cinta dalam hati, bukan dalam kata. Dengan tangan begitu gegabah menulis tentang cinta, namun setelah mencapai kata cinta , kata-kata itu pecah dalam desahan hati manusia.
Hanya dalam tahajud ku bisa bemunajat cinta dengan Alya dan melepas kerinduan yang membara , lewat bait-bait tetesan airmata bening dari pipi, lewat malam yang sunyi dan sepi . mengantar hati untuk menyatu dalam cinta dan bahtera illahi.
“ Alhammdulillahirobbil’ alamin….sebentar lagi aku harus meninggalakan bangku Aliyah”, gerutku dalam hati , ditambah iringan lagu ST 12 ,” Inilah saat terakhirku , melihat kamu….jatuh airmataku…..menagis pilu, hanya mampu ucapkan selamat jalan kasih….sauj jam saja kutelah bisa cintai kamu dihatiku, namun bagiku melupakanmu….butuh waktuku seumur hidup…”
Membawa anganku melayang jauh, saat aku harus dihukum ngaji di depan sekolah, ssat aku harus sujud dilapangan , tak pernah memakai aqtribut lengkap bahkan kaos kaki pun tidak pernah memakai”, sing penting ganteng oke coy…..” tidak Cuma itu saja , yang lebih parah yaitu sering membuat kesel dan marah para Bapak Ibu Guruku.
Hinggga kurajut puisi istighfar cinta dalam saat terakhirku.
ISTIGHFAR CINTA
Lewat istighfar ini aku dendangkan melodi rasa seorang pecinta bersama luka-luka tawar yang membuat diri ini tak berdaya. Astaghfirullah….
Ampuni aku dengan beribukehilafanku
Ampuni aku yang telah melanggar aturan-aturan MU
Ampuni aku atas segala nafsu dan hasratku
Tak dapat bedakan lagi antara cinta dan luka menyatu
Menusuk rindu qalbu
Kini derita telah menyantapku diantara debu-debu kemunafikan ingkar janji yang terpaparkan.
Ingin ku gapai dan raih bintang meski aku tak dapat terbang. Ingin ku raih cinta dalam pekanya dunia yang kelam.

Kini saatnya waktu perpisahan, hanya bingkaian keuangan menyatu dalam hati, sebagai sajak untuk mereih mimpi. Meski aku bisa berucap, meski aku bisa menulis, tak sanggup aku torehkan unatian rasa yang telah tercipta. Mungkin suatu saat nanti kita kan mengerti, betapa berartinya sebuah kedamaian, batapa indahnya kebersamaan. Semua akan terasa bila kita sudah tak bersama. Dan untukmu sahabat, ukir dalam hidupmu narasi-narasi cinta . pandanglah ke depan karean itu dalah kenyataan . janganlah menoleh kebelakang karena itu kenangan. Dan semua itu hanya sepenggal kisah yang turut mewarnai pelangimu, mengertilah bahwa pelangi tak hanya satu warna. Begitu juga kehidupan tak selalu bahgia.
Pagi ini sepi, tak ada kicau burung yang menyapaku, hangatnya sinar mentari tersenyum dibalik rimbun dedaunan, dibalik seragam almamater MAN Rengel ini terdapat tubuh yang berlinang kerisauan . sudah setengah jam aku sampai di sekolah, tapi belum ada bel pelajaran yang berbunyi , dari kejauhan terlihat Alya berjalan menghampiriku.
“ Hai….met pagi, tumben udah berangkat ? biasanya jam 7 baru berangkat, sampai harus disetrap didepan kantor guru…”
He…he…he…maklu, kan saat terakhir, rajin dikit nggak apa-apa kan?”
“ Iza…eh…by the way aku boleh ngomong nggak sama kamu?”
“ boleh …emang mau ngomong apa lho?”
“ Jujur sebernya aku ingin disampingmu…memelukmu, tapi aku tak bisa, semua hanya sebatas anganku za”
“ Tapi …apakah kamu mau menungguku dan meraih cintaku seutuhnya…”
“ Aku akan selalu menunggumu Alya , meski kau takpernah dating menemuiku”.
Hanya iringan airmata Alya yang berlabuh dipipi menebar permata dimataku. Dengan menutup wajah Alya berlari dan berlalu dari sampingku. Aku mengerti kesedihan dalam hati Alya. Hanya sekejap mata aku bisa bersanding dangan Alya.
 
 
Di Ambil Dari: http://manrengel09.co.cc

Pelipur Lara


            Aku sakit …
            Batinku merintih terpenjara sepi
            Terkurung rindu,terbalut haru
            Terjerat cinta berparas ayu
                        Aku terluka…
                        Airmataku mengalir deras
                        Menganak sungai hanyutkan hatiku
                        Ke muaramu
            Engkau dimana…
            Sejakku berlayar menuju ratap pelita hati
            Terturut alur hidup tentang rindu disanubari
            Wahai pelipur lara…
            Aku tersiksa

Begitu Indah

Lembut embun pagi menyapa
Membasahi hati yang rindu membara
Membawa kesejukan yang lama kuimpikan
Disaat hanya bertemankan malam
Wahai angin malam…
Sampaikan jeritan hatiku yang lama menanti
Luapan cahaya kasih yang kau teteskan
Tuk padamkan segala risau hati
Duhai malam yang bertabur sejuta bintang
Aku nantikan kedatangannya
Aku rindukan kehadirannya
Aku impikan kehangatannya
Memadu cinta indah...
Berdua indah,indah...
Dan begitu indah

Cinta Putih


Hasrat cinta putih membara
            Terpadamkan luka hilang sekejap
            Membasuh keruh diwaktu rapuh
            Sepi tiada tempat bertumpuh
                        Sandaran hilang tiada kawan
                        Sendiri sunyi tiada arti
                        Menatap dunia mendung berawan
                        Melihat diri terhimpit mimpi
            Oh...ya Illahi...
            Lihatlah ...lihatlah aku disini
            Menata hidup tuk berubah
            Aku kan pergi melangkah
            Biar menjauh dari pandangan
                        Agar sadar satu kenyataan
                        Maafkanlah segalanya

                        Yang pernah kulakukan
                        Untuk cinta akan kenangan